Rencana Tahun Depan

Sepertinya.. tahun depan aku akan lebih tahu diri dan tidak akan mengikuti reading challenge lagi. Apapun bentuknya. Membaca mengikuti Reading Challenge ternyata bukan “passion” ku. Terbukti aku gagal hampir di semua reading challenge.

Reading challenge yang masih tersisa hanya tinggal dua dari sekian banyak image button yang kutempelkan di right sidebar blog ini. Hanya tinggal Serapium Reading Challenge dan Yoshikawa. Yang kusebut terakhir, sedang kuusahakan untuk tidak menyerah di tengah jalan. Keterlaluan deh kalau hanya membaca buku dan diberi waktu satu tahun tapi masih aja menyerah.

Membaca buku untukku sepertinya tidak bisa ditarget. Karena salah satu tujuan aku membaca buku adalah untuk menghilangkan penat. Jadi kalau solusi untuk menghilangkan penat ini kemudian malah menambah beban pikiranku apalah jadinya???

Antara Karir atau Keluarga ?

image

Rumah Cokelat
By. Sitta Karina

Adalah Hannah Andhito, seorang ibu yang juga wanita karir. Istri dari Wirga Anindhito dan ayah dari Razsya Anindhito.

Bekerja dan menjadi ibu rumah tangga di Jakarta adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Setidaknya begitu menurut Hannah. Kemacetan yang harus dihadapinya setiap hari saat jam nya pulang kantor membuat waktunya untuk berinteraksi dengan putra semata wayang nya Razsya menjadi semakin terbatas. Untunglah dia masih tinggal dengan ibunya, jadi pengawasan terhadap Razsya pun bisa dialih kan kepada ibunya selama dia bekerja. Sampai suatu ketika, Razsya mengoceh dalam tidurnya..

“Razsya sayang mbak upik..”

Ocehan tanpa sadar Razsya menghentakkan Hannah. Upik adalah wanita yang dipekerjakan Hannah untuk membantu ibunya mengurusi Razsya. Upik yang cekatan, Upik yang selalu menuruti perintah dirinya terhadap hal yang harus dia lakukan ke Razsya. Tak ada cela dalam pekerjaan Upik, namun perkataan Razsya membuatnya tiba-tiba membenci Upik. Hannah cemburu.

Dia tiba-tiba menyadari kalau dirinya sudah banyak kehilangan waktu dengan Razsya. Upik lah yang mengetahui pertama kali terhadap alergi Razsya terhadap buah pepaya. Upiklah yang tahu kalau kulit kepala Razsya juga sensitif. Upik yang pertama tahu tentang itu semua, bukan dia yang notabene nya adalah ibunya sendiri.

Dilema pun terjadi.. karir kah? Atau keluarga? Manakah yang harus dia pilih?

***

Masalah yang dihadapi Hannah adalah masalah yang lazim terjadi di hampir semua wanita karir. Termasuk aku ūüėÄ

Buat aku sendiri.. seorang ibu pada fitrahnya pasti tidak ingin menelantarkan putra-putrinya dengan para pengasuhnya, dan ketika hal tersebut harus terjadi tentunya ada pertimbangannya masing-masing. Maka itu, aku sangat salut kepada seorang ibu yang mampu menyeimbangkan karir dan keluarganya.

Dalam kasusku, aku memutuskan untuk bekerja lagi karena aku bosan dengan pekerjaan rutin full time mommy. Aku yang terbiasa dengan ritme hidup yang sangat sibuk dari pagi sampai sore, lalu harus berhadapan dengan rutinitas bersama anak dan pekerjaan rumah tangga saja. Aku yang terbiasa memacu otakku, kini harus terbiasa dengan ritme kerja yang sangat santai. Bukan aku menuduh pekerjaan full time mommy itu tidak pakai otak ya, namun tidak seperti menggunakan otak dalam versiku. Makanya aku juga sangat salut kepada wanita-wanita yang bisa bertahan dengan status full time mommy nya.

Sempat terjadi sedikit pertengkaran dulu, ketika aku meminta izin untuk bekerja lagi. Suamiku tersinggung menganggap nafkah yang dia berikan untuk aku tidak cukup. Bahkan dia bilang akan menambahkan uang bulananku dengan sejumlah uang yang setara dengan gaji yang kudapatkan jika bekerja..

Uhh.. naif sekali dia, padahal dia tahu sekali yang kubutuhkan adalah “makanan jiwa” bukan uang.

“Tak ada yang namanya part time mommy dinda..”

Begitu suamiku beralasan saat itu.

Tapi setelah bernegosiasi lagi dan lagi, akhirnya dia mengizinkan aku bekerja. Dengan berbagai syarat tentunya, termasuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan tempatku bekerja.

Sebenarnya dalam buku Sitta Karina ini, wanita yang bekerja tidak melulu disudutkan kok. Contohnya pada kasus kematian suaminya Ira. Ira yang awalnya mencibir Hannah yang tidak menjadi seorang ibu yang ideal bagi Razsya ternyata cukup limbung ketika suaminya meninggal dan ternyata tidak meninggalkan tabungan yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Yap, itulah salah satu fungsi dari seorang ibu yang bekerja. Tak harus bekerja kantoran, bisa juga berwiraswasta.. yang penting kemandirian ekonomi si Ibu dapat terwujud. Karena seorang wanita yang mandiri secara ekonomi, akan memiliki posisi tawar yang seimbang dengan suaminya jika terjadi sesuatu. Karena tak ada yang tahu masa depan, tak ada yang tahu umur suami kita, atau apakah suami kita tidak akan berkhianat dari kita nantinya.

Oleh karena itu, tokoh Hannah di novel ini pun digambarkan tidak serta merta full menjadi ibu rumah tangga setelah resign dari kantor, namun Hannah tetap menjadi freelancer.

Well, buku ini sangat inspiratif sekali untuk ibu muda seperti diriku. Dengan bahasa yang santai dan persoalan yang disajikan pun persoalan sehari-sehari, membuat buku ini mudah untuk dikunyah dan dinikmati. Four stars out.

Close Up Interview Ultah BBI yang ke-2

Awalnya niat gak ikutan Close Up Interview ini dalam rangka ultah BBI yang kedua. Tapi berhubung kayaknya asik juga.. dan banyak teman-teman yang ikutan akhirnya ikutan juga deh. Dapet target mbak Sinta Nisfuanna. Sebelumnya belum pernah ngobrol akrab selain bales2an komen di blog. Bahkan kayaknya seingetku nih, mbak Sinta orang pertama yang komen di blog ini. Bener gak sih mbak?

Makanya niat wawancaranya via telpon biar bisa lebih akrab. Tapi akunya ternyata grogiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aaaaaaaaaaaarrrrrrghhhhhhhh.. jd suka ketawa-ketawa gak jelas gitu waktu nelpon mbak Sinta. Malu deh dengernya….

Nah ini wawancara yang aku lakukan terhadap beliau. Gak banyak pertanyaannya, soalnya grogi berat. :hammer:

 

dan silahkan mampir ke blognya mbak Sinta di http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/

Mengeja I-N-D-O-N-E-S-I-A

Bait-bait lagu¬†Tomorrow Will Be Better¬†‚Äďnya Att 9 mengalir di celah speaker laptopku, menembus keheningan malam tepat pukul 10.03. Awan kumulus baru saja menggumpal di atas perairan Laut Jawa, lalu diarak menuju daratan Jakarta, dan seketika hujan deras tumpah ruah dibalik asap kelabu langit yang kerontang. Sepanjang bulan yang bergulir, seolah Tuhan mencampakkannya dengan memberkahinya banyak air dari langit dan menyebabkan banjir di beberapa kawasan. Jakarta yang malang.¬†Namun, alih-alih menyalahkan Tuhan atas segala pengaturan musim tak jelas itu, aku malah melongok ke dalam lembar demi lembar buku karya Lelia S. Chudori yang sudah dua hari ini kubaca.

Judulnya Pulang..

Dengan cover berwarna latar kuning dan bergambar tangan yang mengepal ke atas, disertai dengan tulisan berwarna merah yang dibuat menyerupai huruf-huruf yang dihasilkan oleh mesin ketik membentuk kata “pulang” telah membawa pikiranku mengelana membayangkan kalau sebentar lagi aku akan diajaknya untuk berpetualang dalam cerita-cerita perjuangan. Cerita-cerita revolusi.

Tokoh utama dari novel ini adalah wartawan sebuah kantor berita di dekat jalan Sabang. Walau di novel ini disebut Nusantara, kita semua tahu di dekat Jalan Sabang ada kantor berita Antara. Ayah dari Leila S. Chudori pengarang buku ini adalah wartawan dari kantor berita Antara tersebut, begitu pula dengan Leila sendiri yang saat ini berprofesi sebagai wartawan di salah satu media di Indonesia. Jadi menjadikan wartawan sebagai profesi sang tokoh utama sungguh pilihan yang tepat, karena hal itu sangat dekat dengan keseharian penulis.

Berlatar waktu tahun 1965, aku merasa bisa memahami situasi di kantor berita tersebut. Bahwa disekitar tahun 1965 ada tiga kubu. Ada yang sangat merah, aktif pada diskusi dan kegiatan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan PKI. Ada juga yang sangat hijau, para pemuja pemikiran M. Natsir. Namun ada pula yang tanpa warna. Mungkin mereka kelompok terbanyak, karena pada dasarnya wartawan adalah orang yang paling bebas dan merdeka sedunia.

Dimas Suryo sang tokoh utama, wartawan tak berwarna. Dia hanya kebetulan menghadiri konfrensi wartawan merah di Santiago, menggantikan sahabatnya yang merah, demi sebuah alasan merah muda. Cinta. Pada saat dia disana, Jakarta menjadi merah darah. 30 September 1965.

Dan, tiba-tiba saja Dimas terjebak nasib. Tidak bisa kembali ke tanah air. Sempat ke peking, Kuba, dan akhirnya terdampar di Paris. Menikah, mempunyai anak, merintis karir yang tak mungkin. Tetapi puluhan tahun berlalu, tak sedikitpun memutuskan rindu untuk mencium wangi pembahagiannya, yang hanya bisa diwakili oleh cengkih, dan kunyit, serta aroma tanah karet.

Ide Leila sendiri dalam menuliskan hal ini tidaklah bisa dikatakan original. Aku tahu, dia terinspirasi dari sebuah cerita yang dikisahkan oleh Sobron Aidit, adik dari DN Aidit yang menjadi eksil dan menetap di Perancis dengan membuka sebuah restoran Indonesia disana. Restoran tersebutlah yang dihadirkan di buku Pulang ini sebagai restoran Tanah Air yang dikelola oleh empat serangkai yaitu Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf.

Dimas kemudian menikah dengan seorang gadis Perancis dan mendapatkan seorang anak yang bernama Lintang Utara.

Sebenernya pokok masalah dalam novel ini terletak pada diri Lintang Utara. Sebagai seorang anak dari seorang pria yang dianggap sebagai pengkhianat negara tentunya tidak mudah. Bahkan di Perancis sekalipun. Para birokrat-birokrat di kedutaan besar Indonesia di Perancis sana menganggap restoran Tanah Air sebagai restoran PKI. Bahkan isu tersebut dihembuskan kepada pihak keamanan Paris sehingga memaksa hidup mereka pun sedikit tidak tenang walau tinggal jauh dari Indonesia.

Hal tersebutlah yang ingin diceritakan oleh Leila melalui buku ini. Sebuah cerita dari keluarga para eksil, bahkan lebih suram lagi.. keluarga dari mereka-mereka yang dianggap sebagai PENGKHIANAT NEGARA.

Kecewa, sungguh kecewa.

Kecewa ketika ternyata buku ini “hanya” bercerita dari sisi itu nya saja. Dengan cover depan yang terlihat sangat “revolusi” sekali, buku ini sungguh mengecewakan. Jika dibandingkan dengan buku lain yang terbit nya hampir bersamaan dan mengambil setting waktu yang sama dengan buku ini yaitu novel Amba karangan Laksmi Simanjuntak, buku ini jadi terlihat seperti buku roman yang hanya mengambil setting peristiwa berdarah tahun 1965 dan 1998.

Yup, buku ini juga mengambil setting ketika kekacauan politis pada tahun 1998. Dimana Lintang Utara anak dari Dimas Suryo berkunjung ke Indonesia untuk membuat skripsi yang menceritakan tentang nasib para keluarga para pengkhianat negara tersebut.

Buku ini over dosis dengan kisah-kisah asmara! sangat over dosis. Dimulai dengan kisah cinta Dimas dan Surti, lalu Dimas dan Vivienne bahkan sampai Lintang dan Segara Alam. Aku tahu pengarang novel ini adalah perempuan, aku tahu  bagaimana model novel-novel beliau sebelumnya. Tapi melihat kalau buku ini hanya seperti ini saja, aku kecewa. Oh man.. bukan drama yang mau aku baca dalam buku ini, setidaknya dalam sebuah buku dengan cover depan yang sangat membuatku bergairah akan revolusi. Bukan ini.. Dan bukan pula sisipan cerita-cerita vulgar adegan percintaan antara Dimas dan Surti di meja makan atau Dimas dan Vivienne di apartemen sempit bahkan bukan pula adegan sex Lintang Utara dan Segara Alam di tengah kecamuk kerusuhan 98. Bukan itu!

Aku menginginkan lebih! Aku berharap ada cerita yang akan membangkitkan rasa mencintai negri ini, bukan malah membaca galauan sang tokoh utama yang awalnya kukira menyimpan cengkih dan kunyit untuk melambangkan kecintaannya pada Indonesia. Namun di akhir-akhir cerita aku jadi tahu kalau aku kecele. Kunyit dan cengkih itu ternyata melambangkan…. ah sudahlah..¬†give me back my money *jedukin kepala ke meja*.

Ditambah lagi Time frame nya yang meloncat-loncat, dari masa lalu ke masa kini.  Loncatan waktu ini menyulitkan aku untuk merekonstruksi setiap adegan di dalamnya. Dengan gaya cerita yang lompat-lompatan dan beraneka sudut pandang seperti ini, ceritanya jadi sedikit memerlukan waktu untuk dikunyah. Bagaikan sop yang kepanasan, aku jadi mesti pelan-pelan dan bolak-balik membacanya sehingga kelezatan sop ini jadi tidak bisa dinikmati.

Seorang teman pernah mencibirku gara-gara hal ini.. katanya otakku tipikal otak kiri, jadi setiap hal harus tersusun sistematis. Tapi aku tidak peduli, yang berhak menentukan kiri atau kanan kan hanya tukang parkir bukan dia.

Kemudian penokohannya. Menurutku, Leila kesulitan dengan karakter dan visualisasi fisik setiap tokoh-tokohnya. Dimas Suryo, Segara Alam, Hananto Prawiro, dan Naraya digambarkan dengan kondisi fisik yang hampir sama.. ganteng dan perawakannya tinggi. Lalu tidak adanya suatu ciri khas yg membedakan perbedaan generasi diantara para tokoh-tokohnya kecuali hanya dengan penggunaan kata-kata gaul seperti bokep, ngehe dsb.. dan menurutku hal itu tidaklah cukup. Fail.

Lalu aku juga agak terganggu dengan sisipan-sisipan syair lagunya Led Zeppelin. Seperti cerpen remaja saja disisipkann syair-syair seperti itu. Malu ah sama cover bukunya yang amat menggelora. :p

Jadi berapakah rate nya?

3 from 5

Waaa.. masih dapat tiga ya padahal sudah banyak nilai minus yang diungkapkan di paragraf-paragraf awal?

Ya, karena harus kuakui kalau aku suka caranya Leila S. Chudori bercerita dalam buku ini. Suka gaya bahasanya minus bahasa-bahasa gaul yang menurutku terlalu dipaksakan. Suka bagaimana dia berhasil membawa aku yang kecewa ini menikmati perjalanan hidup Dimas Suryo dan keluarga serta teman-temannya. Ibarat nasi telah menjadi bubur, Leila S. Chudori berhasil meramu bubur tersebut menjadi bubur ayam yang lezat.

Dan sedikit fakta yang berhasil dituliskannya di buku ini mengenai kehidupan para keluarga eksil politik yang harus menanggung dosa yang tidak pernah mereka lakukan pun menjadi nilai positif dan penyegaran dari buku-buku bertema sejarah yang sudah ada.

Akhir kalimat, aku tetap meyakini, tidak akan ada bangunan sejarah yang tegak diatas fondasi kepicikan dan arogansi. Tidak akan ada kebenaran yang terjamah dengan kesempitan berpikir. Dan tidak akan ada kebaikan yang tersyiar dengan keangkuhan qalbu dan kedangkalan fikriyah. Bukanlah seorang manusia besar jika Ia masih terbelenggu dengan kekerdilan ego dan terjebak pada nafsu menilai benar dan salah sebuah perbedaan dari satu perspektif belaka. Para anggota eksil politik ini tidak seharusnya menerima penghakiman sepihak atas apa yang tidak pernah mereka kerjakan, atas sebuah ideologi yang dianut oleh nenek moyang yang ternyata tidak sesuai dengan ideologi sang penguasa negara.

Pulang
by. Leila S. Chudori
Paperback, 464 pages
Published December 4th 2012 by Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN 139789799105158
edition language Indonesian

Urus Saja Moralmu

image

ENTROK
By. Okky Madasari

Ini Entrok..

Entrok adalah beha..

***

Beberapa orang temanku menyebutkan dalam reviewnya kalau tema buku ini adalah Uang! Tapi aku tidak setuju dengan mereka. Sama seperti buku Ronggeng Dukuh Paruk yang seringkali dinilai hanya berdasarkan kisah romansa antara Rasus dan Srintil, aku juga tidak rela kalau buku ini dinilai sedangkal itu. Buku ini bercerita tentang feminisme, sosial politik, dan yang paling penting.. Buku ini bercerita dengan gamblang bagaimana teror negara terhadap rakyat kecil di masa-masa orde baru. Kalian menurut atau kami cap sebagai PKI!

Adalah Sumarni, seorang remaja baru gede yang sangat menginginkan Entrok untuk menyangga payudaranya yang mulai tumbuh. Pada masa itu, entrok bisa dikatakan pakaiannya orang-orang kaya. Orang-orang seperti Sumarni dan ibunya tidak akan sanggup membelinya. Ibunya terbiasa menggunakan kemben untuk menggantikan fungsi entrok, namun Sumarni tidak mau. Sumarni ingin entrok, entrok seperti yang dipakai oleh Tinah sepupunya.

Dengan diawali keinginannya menggunakan Entrok, berangkatlah Sumarni menjadi seorang wanita yang berkemauan kuat dan pekerja keras. Dia memulai “karier” nya menjadi kuli di Pasar. Dikumpulkanlah sekeping demi sekeping receh demi membeli entrok idaman. Tak dinyana, tabungannya cepat terkumpul. Uangnya bahkan berlebih kalau hanya untuk membeli sebuah entrok saja. Dia memutuskan untuk menggunakannya sebagai modal berjualan keliling desa, hingga tak lama usahanya pun berkembang dan perlahan-lahan Ia menjadi orang kaya. Dari berjualan sayur-sayuran berkeliling kampung, usahanya merambah pada pengkreditan panci, wajan dan kawan-kawannya hingga kemudian Ia juga membungakan uang yang dipinjamkan pada tetangganya. Sumarni kaya raya.. tanahnya berhektar-hektar.. Bahkan pejabat negara yang katanya seorang priyayi pun tak sekaya Sumarni. Ia punya televisi, cuma Pak Lurah di desa tersebut yang memiliki televisi selain Sumarni.

Suami Sumarni adalah Teja. Teja adalah pemuda yang menemaninya menjadi kuli untuk pertama kalinya di pasar. Dari pernikahannya dengan Teja, lahirlah seorang putri yang bernama Rahayu. Sumarni yang buta huruf, Sumarni yang lahir dan besar dengan kondisi yang kekurangan bertekad untuk memberikan yang terbaik kepada Rahayu putrinya.

Rahayu hidup berkecukupan dan berpendidikan. Sumarni menyekolahkannya hingga tingkat universitas. Namun dari sinilah konflik ibu dan anak dimulai..

Seiring dengan ilmu yang bertambah, ditambah hasil “doktrin” dari guru-guru yang mengajarnya, Rahayu mulai bersikap untuk menilai ibunya. Menurut gurunya, sikap Sumarni yang masih menganut aliran animisme adalah sirik dan tidak diperbolehkan oleh agama. Begitulah kata gurunya dan begitu pula Rahayu memandang Sumarni.

Rahayu menganggap tingkah Sumarni yang masih memberikan sesajen kepada arwah leluhur dan tirakat tengah malam di bawah pohon sambil berdoa kepada Ibu Bumi adalah sebuah dosa besar. Bahkan tak jarang Ia membuang sesajen berupa tumpeng dan ayam panggang yang diletakkan oleh Sumarni. Ia marah besar kepada ibunya. Diapun menyuruh ibunya untuk hanya meminta kepada Allah swt.

Dan bagaimana dengan Sumarni? Dalam posisi nya ini, aku bisa mengerti bagaimana perasaan Sumarni. Tentunya Ia menjadi sedih dan sakit hati sekali melihat tingkah laku putrinya. Tapi ibu adalah tetap menjadi ibu, cintanya akan memaafkan semua tingkah laku putrinya yang tidak berkenan di hatinya.

Bagaimana mungkin aku meminta kepada Allah swt sedangkan aku tidak pernah mengenalnya…

Jawaban yang sangat sederhana inilah yang diberikan Sumarni pada Rahayu. Jawaban yang memberikan perenungan yang dalam kepadaku yang membacanya.

Okky Madasari membuat buku ini dalam dua sudut pandang, yaitu Sumarni dan Rahayu.. dua tokoh perempuan sentral yang berperan besar dalam cerita ini. Di dalamnya, kita akan melihat dengan jelas bagaimana kondisi sosial Indonesia saat itu. Bagaimana pemaksaan kehendak saat pemilu berlangsung, bagaimana tentara-tentara yang bertugas menjaga keamanan pasca revolusi pun berubah menjadi preman yang tak segan menggunakan kekuasaannya untuk memalak masyarakat kecil dengan dalih uang kemananan. Tidak menurut? maka kamu adalah PKI. Masalah petrus alias penembak misterius pun disinggung di buku ini. Bagaimana kematian misterius tiba-tiba orang yang katanya preman itu ternyata tidak menimbulkan ketenangan pada masyarakat, namun malah menimbulkan… TEROR.

Bahkan Okky juga menceritakan bagaimana pemaksaan program KB dilakukan saat itu. Pemaksaan karena, masyarakat yang tidak tahu menahu itu disuruh untuk mendapatkan suntikan KB tiap bulannya tanpa tahu apa akibatnya. Dan lagi-lagi kalau tidak menuruti akan dicap PKI.

Terlihat sekali pada masa itu, bagaimana Orde Baru membuat image PKI menjadi sangat menyeramkan. Menjadi PKI artinya kalian akan dipenjara dan ditandai seumur hidup lewat KTP kalian. KTP kalian akan berhiaskan hurf ET alias Eks Tahanan. Dan itu artinya, tidak ada lagi yang mau memperkerjakan kalian atau berhubungan dengan kalian lagi. Kehidupan sosial para ET ini kiamat dengan sendirinya.

Selain itu, Okky juga sedikit menyinggung mengenai Tragedi Kedung Ombo. Tragedi yang memakan korban para penduduk sekitar. Pusat memerintahkan ganti rugi tanah untuk pembangunan waduk Kedung Ombo adalah Rp 3000/m2 namun kenyataannya yang ditawarkan kepada masyarakat hanya Rp. 300/m2. Sisanya? masuk ke kantong para kepala daerah. Dan lagi-lagi, TNI menggunakan kuasanya dan menjadi algojo untuk menyuruh para penduduk sekitar lokasi agar menerima ganti rugi yang ditawarkan.

Buku seperti inilah yang seharusnya banyak beredar di masyarakat. Buku yang dengan “santai” nya mencoba menceritakan sejarah Indonesia sesungguhnya. Buku-buku seperti ini akan memberikan kepada kita pandngan lain mengenai ketentraman yang kita rasakan di masa Orde Baru.

Buku ini menurutku, setara dengan Ronggeng Dukuh Paruk nya Ahmad Tohari dan di atas Pulang nya leila S. Chudori. Buku yang sangat memuaskan dalam hal pikiran dan nurani. Lima bintang untuk buku ini.

Well, Clarice – have the lambs stopped screaming?

The Silence of The lambs

by. Thomas Harris
Paperback, 480 pages
Published December 2012 by Gramedia Pustaka Utama

Novel?

Film?

Novel?

Film?

Ahh.. tentu saja.. Novel.

Aku sudah membaca dan menonton keduanya. Walaupun film The Silence of The Lambs yang dibintangi Jodie Foster ini meraih lima buah Oscar, aku merasa tidak akan bisa mengerti jalan ceritanya andai belum membaca bukunya terlebih dahulu. Dan sampai detik ini, aku masih bingung mengapa film tersebut mendapatkan lima buah Oscar. Mungkin karena standar film ketika tahun 1991 tidak seperti sekarang kali ya..

poster film

Jadi film nya lebih jelek kah dibanding novelnya? Umm.. Aku tidak bilang seperti itu, karena rasanya tidak fair jika kita membandingkan keduanya. Film dan novel itu menggunakan dua media penyampaian yang berbeda. Selain itu juga, ketika kita membaca suatu novel, imajinasi kita akan berjalan seiring dengan kerangka budaya, sosial dan segala macam yang tumbuh bersama kita. Dan ini mempengaruhi imajinasi kita masing-masing. Sedangkan film, semua bergantung pada imajinasi sang sutradara dan durasi waktu. Jadi wajarlah jika tidak semua imajinasi terpuaskan setelah melihat filmnya.

And now.. Let’s talk about the novel..

Hal yang pertama terlintas dalam benakku ketika melihat sampul depan buku ini adalah gambarnya menakutkan. Sebuah kupu-kupu (yang pada akhirnya aku tahu kalau itu ngengat bukan kupu-kupu dan sampai sekarang aku belum tahu apa bedanya ngengat dan kupu-kupu) yang merentangkan sayapnya dengan wajah yang mengerikan. Semacam membentuk wajah tengkorak saja. Begitupun dengan Cover vcd originalnya, temanya serupa. Tentunya kalian bertanya-tanya donk, apa hubungannya kupu-kupu dengan domba-domba yang membisu yang menjadi judul buku ini?? Haaa.. Nanti aku jelaskan satu persatu..

Cover VCD

Novel setebal 480 halaman ini bercerita tentang seorang detektif wanita muda yang bernama Clarice Starling yang ditugaskan untuk mewawancarai seorang sosiopat paling kejam dalam sejarah.. Hannibal Lecter.. Hannibal The Cannibal. Umm.. Sebenarnya Starling belum resmi menjadi seorang detektif, statusnya masih terdaftar sebagai murid di Quantico, FBI Academy. Namun, Kepala Seksi Ilmu Perilaku -seksi di FBI yang menangani pembunuhan berantai- Jack Crawford meminta bantuannya. Karena Starling adalah salah satu murid terbaik di akademi tersebut dan memiliki basic pendidikan ilmu psikologi.

Crawford sedang menyusun sebuah program yang diberi nama VI-CAP alias Violent Criminal Apprehension Program. Sebuah pengembangan database guna menyusun profil psikologis bagi kasus-kasus yang belum terpecahkan dengan mewawancarai dan memeriksa seluruh tahanan pembunuh berantai, termasuk di dalamnya adalah Dr. Hannibal Lecter. Mengerti ga dengan maksud Crawford ini?

Jikalau kalian sudah membaca kisah-kisah Holmes sebelum membaca buku ini, kalian pasti mengerti apa tujuan Crawford membuat program VI-CAP. Jadi begini, menurut Holmes -dan yang berulang kali Ia katakan- bahwa metode, taktik dan motif kejahatan yang terjadi di dunia ini tidak pernah ada yang baru. Jadi dengan menyusun pengakuan-pengakuan para pembunuh berantai tersebut, diharapkan Crawford dapat merumuskan suatu formula yang bisa digunakan ketika terjadi pembunuhan berantai lagi. Salah satunya untuk mengusut kasus pembunuhan berantai yang sedang ditangani FBI saat ini. Mereka menjulukinya..

Buffalo Bill..

Sudah lima korban yang diyakini menjadi korban dari aksi kesadisan Buffalo Bill ini, hal ini terlihat dari kesamaan nasib korban ketika ditemukan, yaitu seorang perempuan berkulit putih, dikuliti dan mengambang di sungai. Namun FBI sama sekali belum bisa memperkirakan siapa pelaku pembunuhan-pembunuhan tersebut. Buffalo Bill tidak mempunyai pola-pola tertentu mengenai lokasi penculikan atau pembuangan korban, dan hal itu sangat menyulitkan para detektif yang menyelidikinya.

Maka, berangkatlah Starling mencoba peruntungannya untuk mewawancarai Dr. Lecter.

Dr. Hannibal Lecter, adalah seorang ahli psikiatri jenius. Dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan ini delapan tahun yang lalu. Dia selalu memakan bagian tubuh para korbannya. Karena kesadisan dan perilaku kanibalnya lah, Lecter diberi penjagaan maksimum. Selain sel, ruang gerak di dalam selnya juga dibatasi oleh benang nilon. Penutup mulutnya yg serupa topeng hoki serta jaket pengekang selalu digunakan sebelum memberinya makan atau membersihkan selnya. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang buruk yang mungkin terjadi. Pernah kejadian, ketika mereka melonggarkan penjagaan terhadapnya agar memudahkan perawat klinik tahanan memasang kardiogram, Lecter malah memakan daging muka dan sebelah mata perawat tersebut. Euuuuhhh… Sadis ya? Sangat!

Buku ini tidak menjelaskan ihwal mengapa Dr. Lecter yang seorang psikiatri bisa memiliki kelainan jiwa tersebut. Hal itu bisa dibaca di buku keempat yaitu Hannibal Rising. Yup, serial ini memang terdiri dari empat buku yaitu Red Dragon, Silence of The Lambs, Hannibal dan Hannibal Rising.

Menuju sel Dr. Lecter saja sebenarnya sudah membuat “intimidasi” tersendiri bagi Starling. Kompleks sel Dr. Lecter dihuni oleh beberapa pembunuh yang sama-sama memiliki gangguan mental. Salah satunya Miggs. Abaikan dulu tentang Miggs, sekarang mari menuju Lecter.

Starling memulai wawancaranya dengan baik. Hal ini terlihat dengan diterimanya dia oleh Lecter. Walaupun akhirnya Dr. Lecter tetap tidak mau mengisi kuesioner yang disodorkan Starling. Sebaliknya, Lecter bahkan dapat menebak dengan tepat dari wilayah mana Starling berasal dan apa latar belakang keluarganya. Darimanakah Lecter bisa mengetahui semua itu? Walau dia adalah seorang psikiatri yang super jenius, aku memilih untuk percaya kalau Lecter bisa menebak asal usul Starling dari ilmu deduksi yang dikuasainya.. Ilmu kebanggaan Holmes.

Starling pun pulang dengan tangan hampa. Saat Starling hendak keluar dan menyusuri kompleks sel tersebut, Miggs yang mengintimidasinya di awal kedatangannya tiba-tiba mencipratkan spermanya ke wajah Starling. Starling kaget, panik, dan ingin lari.. Lecter melihatnya. Dia tiba-tiba berteriak memanggil Starling..

Clarice…

Clarice…

Clarice Starling..

Nada panggilan yang ketiga lah yang membuat Starling menghentikan langkahnya, berbalik dan menemui Dr. Lecter kembali.

Dr. Lecter mengatakan kalau dia sudah melihat perlakuan Miggs kepada dirinya. Dan dia tidak menyukai ketidak sopanan (tapi melakukan pembunuhan?) Yang dilakukan Miggs terhadap Starling. Maka dia pun membisikkan sesuatu pada Starling, sesuatu yang katanya akan membantunya untuk mengungkap kasus Buffalo Bill.

Carilah mobil pasienku yang bernama Benjamin Raspail

Begitulah petunjuk singkatnya. Hal ini berbeda dengan yang dituangkan dalam filmnya. Di film, Anthony Hopkins yang berperan sebagai Hannibal Lecter memberikan sebuah anagram yang merujuk pada nama gudang yang menyimpan mobil Raspail ini.

Belum sempat Starling memecahkan petunjuk yang diberikan oleh Dr. Lecter, satu gadis ditemukan mengambang di daerah Virginia dan satu gadis lainnya yang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan korban Buffalo Bill yang sebelum-sebelumnya telah diculik. Dia adalah Chaterine Martin, putri dari Senator Ruth Martin. Starling dan Crawford pun semakin berpacu dengan waktu, mengingat waktu yang diperlukan dari saat korban diketahui diculik dengan saat ditemukannya mengambang di sungai semakin sedikit, dari seminggu berubah menjadi hanya tiga hari saja.

Petunjuk-petunjuk dari Dr. Lecter mengenai kasus Buffalo Bill satu persatu didapatkan oleh Starling. Tentunya dengan tidak gratis, Lecter tertarik dengan masa lalu Starling. Satu cerita tentang masa lalunya, menghasilkan satu informasi mengenai Buffalo Bill.¬†Quid pro quo¬†‚Äď I tell you things, you tell me things.

Dari petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Dr. Lecter inilah kasus Buffalo Bill semakin terang. Namun waktu terus berjalan, mereka semakin terdesak untuk cepat menemukan Chaterine atau dia akan bernasib sama dengan korban-korban Buffalo Bill sebelumnya. Starling mendesak Dr. Lecter untuk menyebut nama dari Buffalo Bill. Namun Lecter memiliki syarat. Dia menginginkan jendela, sudah delapan tahun Lecter tidak bisa melihat pemandangan di luar. Akankah Buffalo Bill berhasil ditangkap ? Akankah Lecter menerima jendelanya?

fiuhh..

Membaca buku ini rasanya sangat serba salah. Di satu sisi aku merasa penasaran dan ingin menyelesaikannya cepat-cepat, namun di sisi lain aku menikmati setiap perasaan mencekam yang ditimbulkan oleh buku ini. Sudah seperti candu rasanya. Setiap untaian kata yang ditulis Harris dalam buku ini, dapat memberikan aura yang sangat mencekam, bahkan ketika aku masih tidak ada gambaran bagaimana rupa Dr. Lecter itu sendiri.

Tak diketahui secara pasti sumber inspirasi utama bagi Thomas Harris saat membuat karakter Hannibal Lecter. Bila merujuk pada tulisan David Sexton saat menulis buku “The Strange World of Thomas Harris : Inside The Mindof The Creator Hannibal Lecter” , karakter Hannibal Lecter terinspirasi oleh kisah William Coyne, seorang pembunuh berantai yang kabur dari penjara pada tahun 1934 dan sempat melakukan aksi-aksi pembunuhan serta kanibalisme di Cleveland (kota tempat tinggal Harris), negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Selain Hannibal Lecter, konon Harris juga terinspirasi dari Ed Gein seorang pembunuh berantai yang terkenal suka menguliti korbannya dalam menciptakan tokoh Buffalo Bill.

Sekarang, mari kita mulai pembahasannya.

Pertama adalah mengapa judulnya adalah The Silence of The lambs alias Saat Domba-domba Membisu?

Perhatikan dialog berikut :

Hannibal Lecter: I will listen now. After your father’s murder, you were orphaned. You were ten years old. You went to live with cousins on a sheep and horse ranch in Montana. And…?

Clarice Starling: And one morning, I just run away

Hannibal Lecter: No “just”, Clarice. What set you off? You started at what time?
Clarice Starling: Early, still dark.

Hannibal Lecter: Then something woke you, didn’t it? Was it a dream? What was it?

Clarice Starling: I heard a strange noise.

Hannibal Lecter: What was it?

Clarice Starling: It was… screaming. Some kind of screaming, like a child’s voice.

Hannibal Lecter: What did you do?

Clarice Starling: I went downstairs, outside. I crept up into the barn. I was so scared to look inside, but I had to.

Hannibal Lecter: And what did you see, Clarice? What did you see?

Clarice Starling: Lambs. The lambs were screaming.

Hannibal Lecter: They were slaughtering the spring lambs?

Clarice Starling: And they were screaming.

Hannibal Lecter: And you ran away?

Clarice Starling: No. First I tried to free them. I… I opened the gate to their pen, but they wouldn’t run. They just stood there, confused. They wouldn’t run.

Hannibal Lecter: But you could and you did, didn’t you?

Clarice Starling: Yes. I took one lamb, and I ran away as fast as I could.

Hannibal Lecter: Where were you going, Clarice?

Clarice Starling: I don’t know. I didn’t have any food, any water and it was very cold, very cold. I thought, I thought if I could save just one, but… he was so heavy. So heavy. I didn’t get more than a few miles when the sheriff’s car picked me up. The rancher was so angry he sent me to live at the Lutheran orphanage in Bozeman. I never saw the ranch again.

Hannibal Lecter: What became of your lamb, Clarice?

Clarice Starling: They killed him.

Dialog di atas adalah cuplikan dialog ketika Lecter dan Starling saling bertukar informasi (Quid pro quo) agar Starling bisa mendapatkan informasi dari Lecter mengenai identitas Buffalo Bill.

Apa yang kalian pikirkan ketika membaca cuplikan dialog di atas? Apakah itu Lamb dalam artian yang sebenarnya kah? atau itu adalah sebuah metafor?

Akan kuceritakan sedikit.. Clarice Starling datang dari West Virginia. Ayahnya adalah seorang Marshal. Ibunya meninggal saat Clarice masih kecil, dan ayahnya menyusul ketika Starling beranjak remaja. Ayahnya ditembak sekawanan perampok ketika memergoki mereka sedang beraksi di suatu malam. Setelah itu, Starling dititipkan ke saudara kedua orang tuanya. Paman dan bibinya adalah peternak domba dan kuda yang juga melakukan penyembelihan terhadap hewan ternak mereka.

Starling mempunyai trauma terhadap kematian ayahnya di masa lalu. Tinggal di sebuah tempat peternakan sekaligus penyembelihan hewan, membangkitkan kembali kenangan terburuk masa lalunya. Dan teriakan domba-domba yang akan disembelih oleh pamannya menghantui mimpi-mimpinya. Bahkan sampai dewasa. Hal itu diakibatkan karena rasa trauma anak kecil itu bisa terbawa sampe dewasa.

Sigmund Freud pernah membahas masalah alam bawah sadar manusia ini. Menurut Freud, kesadaran manusia itu diibaratkan sebagai gunung es. Sedikit yang terlihat di permukaan menunjukkan kesadaran. Sedangkan bagian yang tidak terlihat yang lebih besar menunjukkan aspek ketidaksadaran. Dalam daerah ketidaksadaran yang sangat luas ini, ditemukan dorongan-dorongan, nafsu-nafsu, ide-ide dan perasaan-perasaan yang ditekan. Suatu dunia dalam yang besar dan berisi kekuatan vital yang melaksanakan kontrol penting atas pikiran-pikiran dan perbuatan sadar manusia (Hall dan gardner, 1993 : 60)

Oleh karena itu, ketika kasus Buffalo Bill menguak, ada tuntutan di bawah alam sadar starling kalau dia harus menyelesaikan kasus ini. Teriakan domba-domba dalam mimpinya serupa dengan jeritan minta tolong dari korban-korbannya Buffalo Bill. Dan dia harus menghentikan teriakan-teriakan itu agar domba-domba dalam mimpinya juga berhenti berteriak.

Yang membuat aku tersentuh adalah, Hannibal sengaja bertanya hal-hal menyedihkan di masa lalu Starling termasuk kejadian kematian ayahnya, dan mimpi-mimpi buruknya untuk mempermainkan Starling. Itu yg dulu yang juga selalu dilakukan Hannibal terhadap pasien-pasiennya (he was a doctor, a psychologist). Dan dengan mengetahui emosi semua orang, dia mempermainkan orang lain untuk menjalankan kehendaknya.

Lalu kemudian, mengapa gambar sampul depan buku ini dan VCD originalnya adalah seekor ngengat? kenapa bukan domba? jadi begini ceritanya. Masih ingat korban keenam Buffalo Bill ? Saat korban keenam ini ditemukan, Crawford meminta bantuan Starling untuk mengambil sidik jarinya dan juga menuliskan laporan mengenai kondisi korban saat ditemukan, semacam otopsi kecil-kecilan lah. Saat memeriksa mayat inilah, Starling menemukan sebuah kepompong yang tersangkut di kerongkongan mayat si korban. Ini adalah pertama kalinya. Sebelumnya, tidak ada kepompong yang ditemukan pada mayat-mayat sebelumnya. Bisa jadi tidak ada, atau bisa jadi petugas forensiknya terlewat ketika memeriksanya. Sudah menjadi hal yang biasa jika ada benda yang terrsangkut di kerongkongan korban yang tenggelam, namun Starling tetap saja penasaran. Dia membawa kepompong tersebut ke Insect Zoo, sebuah museum khusus yang mengumpulkan dan meneliti berbagai macam serangga. Dari situ ketahuan bahwa kepompong itu adalah ngengat tengkorak yang berasal dari Malaysia, atau nama latinnya adalah Acherontia styx. Nama tersebut diambil dari dua sungai di neraka, itulah mengapa semua korban-korban nya Buffalo Bill dibuang ke sungai. Dan kepompong itu sendiri ternyata menyimpan suatu simbol bagi kepribadian Buffalo Bill. Apa itu ? baca sendiri 

Kekurangan dari buku ini adalah, Harris sedikit terfokus pada sosok Hannibal Lecter. Memang Lecter sendiri adalah karakter yang fenomenal. Hannibal Lecter masuk ke dalam 100 Greatest Characters of the Last 20 Years menurut Entertainment Weekly. Padahal menurutku, masalah psikologis yang dialami Buffalo Bill cukup menarik untuk dibahas lebih dalam. Akibatnya, cerita mengenai pembunuhan Buffalo Bill hanya menjadi semacam cerita pendukung kekejaman Lecter.

Selain kekejaman yang dilakukan oleh Lecter yang mengintimidasi aku sebagai pembaca, Harris juga memberikan sedikit lelucon di dalam buku ini. Begitu juga dalam filmnya. Dalam filmnya, ketika Buffalo Bill merobek baju sang korban untuk mengetahui ukuran bajunya, tertera tulisan :

Made in Indonesia

Hahahaha  entahlah apa maksudnya, apakah memang benar baju yang dipakai si korban benar-benar berasal dari Indonesia, atau ada maksud lain.

Sedangkan di bukunya.. ada peristiwa yang berkaitan dengan Dr. Chilton -dokter jiwa yang selama ini merawat hannibal Lecter di tahanan- dan nama Buffalo Bill sebenarnya yang diberikan Starling kepada Senator Ruth Martin. Apa itu? well, sekali lagi.. baca sendiri yaa.. tapi akan kuberikan cluenya :

Dari “lelucon” tersebut, kalian pasti akan menyadari bahwa Hannibal Lecter adalah seorang yang jenius.¬†

Akhirnya, tiada pantas selain bintang lima untuk buku yang sangat memuaskanku ini. Tak lupa bintang lima juga untuk terjemahannya. Angkat topi untuk Hendarto Setiadi atas terjemahan yang sangat enak untuk dinikmati. Buku ini sangat kurekomendasikan buat para penggemar cerita-cerita misteri, horror atau thriller.. Dan bersiaplah menikmati terror hannibal Lecter.

Well, Clarice – have the lambs stopped screaming?

Lockhart, parseltounge dan Ford Anglia terbang..

image

Harry Potter dan Kamar Rahasia
By. JK Rowling

Harry dan tahun kedua yang akan dilaluinya di Hogwarts.

Setelah tahun kemarin Harry akhirnya mengetahui kalau dirinya adalah seorang penyihir dan memiliki dunia sendiri serta teman-teman yang menerima kehadiran dirinya dengan baik, Harry merasa tidak sabar untuk melewati liburan musim panas nya bersama keluarga Dursley dan ingin segera kembali ke Hogwarts.

Namun bencana kecil terjadi. Diam-diam seorang peri rumah mendatanginya dan mengakibatkan “sedikit” kekacauan di dapur Petunia Dursley. Hal ini membuat Harry mendapatkan surat peringatan dari Kementrian Sihir mengenai dekrit pelarangan penggunaan sihir oleh penyihir di bawah umur. Namun hal itu belum ada apa-apanya dibandingkan suatu hal yg terjadi saat hari keberangkatannya ke Hogwarts. Peron 9 3/4 menolak dirinya… dan ron. Oh tidaaak…

Lalu apa yang terjadi? Apakah Harry berhasil kembali ke sekolahnya? Siapakah yang menyegel peron tersebut? Siapa yang tidak menginginkannya kembali ke sekolah?

****

Sebenernya, cerita nya lebih daripada yang aku ceritakan dalam sinopsis di atas.¬† Cuma lagi males aja nulis sinopsis panjang-panjang.. heheheheh.. tapi yang pasti, di buku ini kita akan berkenalan dengan guru pertahanan ilmu hitam yang baru yaitu Gilderoy Lockhart. Seorang guru yang menurut Hermione ummm… tampan. Kemudian pohon dedalu perkasa, ramuan polijus, ford anglia terbang, kemampuan berbahasa Harry yang diluar kebiasaan dan basilisk.

Dan hasilnya? Menarik!

Aku suka sekali dengan ide mobil terbang yang ditampilkan Rowling dalam buku ini. Rowling seolah-olah sedang mengucapkan selamat tinggal pada era nya karpet terbang ūüėÄ lebih modern dan menarik. Lebih mewah dibandingkan broomstick yang merupakan kendaraan tradisional penyihir-penyihir barat.

Eh ngomong-ngomong masalah broomstick, ternyata yang terkenal menggunakan broomstick sebagai alat transportasi di kalangan penyihir hanyalah penyihir wanita. Dulu konon katanya, sebelum memutuskan memakai broomstick, para witch dilaporkan terbang menggunakan kambing, sapi, domba, anjing, dan serigala serta menggunakan batang kayu, sekop dan tongkat sihir mereka! Broomstick akhirnya dijadikan alat transportasi pilihan, menurut para cendikiawan, karena peranan wanita sebagai ibu rumah tangga. Yah hanya Tuhan yang tau..

Namun setelah membaca ulang dua buah buku Harry Potter -buku pertama di bulan kemarin, dan buku kedua di bulan ini- aku baru menyadari klo Rowling hobby banget ngebuat pertempuran Harry Potter dan Voldemort biasa-biasa aja.

Yup.. biasa-biasa aja. Justru malah yang lebih dramatis itu pertempuran-pertempuran pendukungnya. Seperti saat di buku pertama, lebih seru ketika Harry dan kawan-kawannya menerobos tempat dimana batu bertuah disimpan dibandingkan saat Harry berhadapan dengan Prof. Quirrell. Atau di buku ini, lebih seru Harry saat melawan Basilisk dibandingkan saat melawan Voldemort.. ckckck Rowling.. Rowling..